Selasa, 24 September 2013

Cerpen; Ibu, di Manakah Engkau?
Setiap kali aku melintas di jalan raya, terlebih saat lampu merah menyala, selalu kuamati. Adakah sosok ibuku di sana, di antara pengemis-pengemis itu? Kupandangi wajah-wajah wanita pengemis itu. Sungguh berharap ibu ada di antaranya. Tak malu aku mengakui beliau, membawa beliau masuk ke mobil jika beliau ada di depan mataku sekarang. Tak ragu aku memeluknya, menciumnya meski keadaannya kotor dan berdebu. Sungguh aku mau ibuku, aku ingin berbagi kebahagiaan bersamanya.

Penantianku sudah pada puncaknya. Lima belas tahun bukanlah tahun, bukanlah waktu yang singkat. Terus menerus berharap, setiap hari berharap menemukan ibu. Dari saat aku masih di SD, saat aku diantar pak sopir, aku selalu melihat ke jalan, mengamati jalanan untuk menemukan sosok ibu, hingga saat ini di mana aku sudah mengendarai mobil sendiri. Setiap malam selalu berdoa, ingin dipertemukan dengan ibu, terkadang sampai menitikkan air mata, menahan kerinduan untuk bertemu beliau. Hari inipun sama, aku tidak menemukan sosok ibuku. Ibu di manakah engkau? Tak rindukah engkau pada diriku? Ibu, aku ingin bertemu denganmu…

Mungkin kalian merasa heran, mengapa aku yang hidup boleh dibilang mapan, mempunyai ibu seorang pengemis. Heran, mengapa tidak malu mengakui beliau dan mengapa masih tetap mencarinya walau 15 tahun sudah berlalu. Saat ini ceritakan peristiwa 15 tahun yang lalu…
Desember 1989

"Ibu, kita mau ke mana?" siang begitu teriknya ibu menarik aku keluar dari rumah. "Kita jalan-jalan kemudian beli boneka, ya," sahut ibu. Belum sempat aku tersenyum bahagia, ibu menyahut, "Wajahmu nanti harus cemberut, ibu nggak mau kamu tersenyum." Setiap harinya tetap sama, namun hari ini aku berharap sungguh akan berjalan-jalan dan membeli boneka, karena hari ini ulang tahunku yang ke delapan dan aku tidak ingin menghabiskan waktu di jalan, yang kata orang kita-kita ini adalah pengemis. Namun jika tidak menuruti nasihat ibu, apa jadinya nanti. Pernah aku melihat ibu menangis, menangis sedih sekali dan aku tidak mau menambah kesedihannya lagi. Dan bukanlah surga ada di telapak kaki ibu, kata ibu kalau ingin masuk surga harus menuruti nasihatnya.


"Ibu, aku capek, kita mau ke mana lagi, hari sudah gelap," kataku dengan suara serak. "Tahan sebentar lagi, sebentar lagi sampai," sahut ibu sambil mengelus kepalaku.
"Ah, ini rumahnya," ibu menekan bel pintu dengan segera.

Rumah yang begitu besar, pagarnya tinggi, halamnnya luas. Sungguh betul-betul mirip istana. Seseorang datang dan tampak sudah mengenal ibu.
"Ibu Parmi, ya, silahkan masuk, sudah ditunggu nyonya."

Ibu pun masuk sambil menggandeng aku, kemudian ibu bercakap-cakap dengan wanita yang nampaknya disebut nyonya oleh mbak yang tadi membuka pintu, sedang aku dibiarkan duduk sendiri. Beberapa saat kemudian ibu memanggilku, katanya, "Dinda, mulai malam ini Dinda tinggal di sini, Dinda harus jadi anak baik dan penurut ya, dengan tante ini kamu nanti bisa punya boneka banyak, tak perlu kepanasan lagi dan bisa sekolah. "Aku merengek tak mau berpisah, ibu aku pegang dengan erat. Aku takut, takut hidup tanpa ibu. "Dinda pasti bahagia dan jadi anak sukses, nanti jemput ibu ya, sekarang ikut sama tante ini."

"Nggak, nggak, aku mau ibu," kataku.
"Ibu sayang kamu, ibu beri yang terbail untukmu, maafkan ibu ya," ibu mencium kenigku lalu pergi…

Sejenak aku berontak, berusaha lari mengejar ibu, namun tidak bisa, tangan yang kuat mencengkeramku dan ibu sudah berlalu. Ibu sudah pergi… ibuku pergi… dan aku hanya bisa menangis.

Sudah seminggu ini aku mogok bicara, hanya menangis dan berpikir bahwa ibu jahat sekali, tega meninggalkanku sendiri. Pernah aku berpikir untuk keluar mencari ibu. Namun aku tak mampu, tak tahu arah dan di mana ibu sekarang. Tante dan om baik sekali, mereka tetap sabar padaku, mereka memperhatikan dan mencintaiku. Kadang aku melihat gurat khawatir dan sedih di mana tante, tetapi aku juga sedih harus berpisah dengan ibu. Di hari kedelapan aku menemukan sepucuk surat…

Dinda, ibu sayang Dinda. Dinda baik-baik saja kan, nggak nakal kan. Dinda masih kecil jadi masih belum mengerti, tiap malam ibu berdoa supaya Dinda senang, sekolah dengan baik dan jadi orang sukses. Ibu ingin yang terbaik bagi Dinda, walau itu berat. Tante dan om sangat baik. Mereka sayang Dinda, jadi berusaha cintai mereka, ya. Turuti mereka seperti kamu menuruti ibu dan ibu mengizinkanmu memanggil mereka ibu dan bapak. Ibu bahagia punya anak manis sepertimu. Doa ibu besertamu.

Air mataku menetes dan saat itu pula kurasakan kehangatan tante dan om. Mereka memeluk dan menciumku.

Nah, akhirnya hidupku dapat seperti sekarang ini, aku disekolahkan, dididik, dirawat bagai anak sendiri. Mereka mencintaiku, demikian pula aku. Namun peristiwa malam itu tak pernah kulupakan, hingga saat ini aku terus mencari ibu. Hidupku akan terasa hampa bila aku tidak dapat menemukan ibu. Cintanya begitu besar bagiku dan sudah saatnya aku membahagiakannya pula. Aku akan terus mencari engkau ibu, dua puluh tahun, dua puluh luma tahun, tiga puluh tahun bahkan sepanjang sisa hidupku akan tetap aku cari.
Aku merindukanmu… ibu memunculkan sosokmu…


sumber : http://kumpulan-cerpenmu.blogspot.com/2009/07/cerpen-ibu-di-manakah-engkau.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar